Menteri ESDM Arifin Tasrif: Masih ada 68 Cekungan Migas yang Belum Dieksplorasi untuk Kurangi Ketergantungan Impor

0
10
(Foto: Kementerian ESDM)

gemahripah.co – Tingkat risiko investasi minyak dan gas bumi (migas) yang tinggi, menjadi tantangan  di tengah pola perubahan konsumsi energi yang lebih mengedepankan energi bersih. Apalagi Pemerintah Indonesia punya visi dalam mewujudkan kemandirian energi.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, dalam keterangan tertulis, Minggu (27/9/2020).

Arifin meyakini bahwa migas di Indonesia masih menjadi barang penting dalam beberapa tahun ke depan. Namun, hal ini semestinya diimbangi dengan kemampuan memproduksi bila ingin menekan impor bahan bakar fosil tersebut.

Memang jika dilihat dari sejarah, lanjutnya, tahun 70’an negeri ini bisa menghasilkan 1 juta barel per hari (bph), sehingga  Indonesia bisa menjadi anggota OPEC. Tapi tahun 2000’an sumbernya sudah menurun, sampai sekarang hanya bisa memproduksi di atas 700 ribu bph.

“Ini menjadi tantangan kita mengingat demand terus meningkat. BBM dan LPG sebagai subtitusi minyak tanah kita impor,” jelasnya.

Arifin menyampaikan, guna mengatasi hal tersebut pemerintah mendorong kegiatan eksplorasi migas nasional mengingat masih banyaknya potensi yang belum digarap. Dengan begitu akan terjadi peningkatan cadangan sekaligus menjadi sumber pasokan utama kebutuhan energi nasional.

“Kita punya 128 cekungan (migas) yang masih ada, 68 cekungan lagi belum dieksplorasi untuk mengurangi ketergantungan impor kita ke depan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Arifin menyampaikan, Kementerian ESDM menargetkan proyek pengembangan kilang atau Refinery Development Masterplan Program (RDMP) di Dumai, Balikpapan, Balongan dan Cilacap. Selain itu juga kilang baru atau Grass Root Refenery (GRR) di Bontang dan Tuban akan tuntas pada tahun 2027.

“Mudah-mudahan ini bisa merespons (kebutuhan),” harapnya.

Program pemanfaatan energi baru terbarukan, hilirisasi batubara, dan jaringan gas, tambahnya, bisa menjadi salah satu strategi pemerintah dalam menekan angka impor BBM.

“Kita punya potensi gas cukup besar. Kalau tidak ada eksplorasi baru, masih ada waktu 20 tahun lagi. Makanya, kita harus masif memasang jaringan gas ke masyarakat,” pungkasnya. (Made Wirya)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here