Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0, Kementan Ujicoba ALsintan Pertanian 4.0

0
48
(foto: Humas Balitbangtan)

gemahripah.co – Kementerian Pertanian (Kementan) mengimplementasikan Mekanisasi 4.0 agar usahatani menjadi semakin efisien. Terobosan tersebut dimaksudkan untuk menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas, dan daya saing usahatani. Mekanisasi 4.0 tersebut diujicoba di lahan milik Balai Besar (BB) Padi Sukamandi, Subang, Jawa Barat pada Sabtu (31/8).

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementan, Andi Nur Alam Syah dalam keterangan tertulisnya, Minggu (1/9).

Andi menyampaikan, kebijakan tersebut untuk menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0. Di mana Sejak 2018 Kementan telah memulai riset dan perekayasaan teknologi alat dan mesin pertanian yang berbasis IoT (Internet of Thing), cyber-physical system, dan management information system.

“Hari ini kami ditugaskan Bapak Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, untuk melakukan uji coba pertanian 4.0 di Balai Besar Padi Sukamandi. Ini merupakan bukti nyata pembangunan pertanian ke depan yang semakin full teknologi modern,” ujarnya.

Kementan, lanjutnya, telah menciptakan banyak karya untuk membangun Mekanisasi 4.0, seperti drone penebar benih padi, robot tanam padi, autonomous tractor, dan mesin panen plus olah tanah yg terintegrasi. Keempat alat mesin pertanian (alsintan) dimaksud saat ini bisa menjadi solusi petani Indonesia dalam melakukan usahatani modern.

“Drone penebar benih memiliki keunggulan yang mampu menebar benih pada lahan seluas satu hektar dalam waktu 1 jam dengan kapasitas 50 sampai 60 kilogram per hektar. Drone penebar benih ini mampu bekerja mandiri sesuai pola atau alur yang sudah dibuat pada perangkat android dan dipandu oleh GPS,” tegasnya.

Menurutnya, Drone ini mampu melakukan resume operation. Operasi yang tertunda dapat dilanjutkan kembali sehingga tidak terjadi overlap dan dilakukan secara otomatis. Ketahanan baterai mampu beroperasi selama 20 menit dengan kapasitas angkut maksimal 6 kilogram benih padi.

“Robot tanam padi dapat difungsikan untuk menanam bibit padi di lahan sawah yang mampu berkomunikasi melalui Internet of Thing melalui sarana GPS dan mampu bekerja mandiri. Spesifikasi robot tanam padi ini mempunyai lebar tanam 30 cm, 6 baris tanam, kecepatan kerja 2,0 kilometer per jam, dan lebar kerja 1,8 m. Kapasitas kerjanya mencapai 0,36 hektar per jam atau 3 jam per hektar,” papar Andi.

Sedangkan autonomous tractor, jelasnya, adalah traktor roda 4 tanpa awak yg dikendalikan oleh sistem navigasi berbasis IoT. Dapat melakukan pengolahan lahan sesuai dengan peta perencanaan menggunakan GPS.

“Alat mesin pertanian berupa panen padi terintegrasi dengan olah tanah merupakan alat yang mampu melakukan 2 proses sekaligus, yaitu proses memanen padi sekaligus olah tanah dengan rotari. Alsintan ini mampu mempercepat dan mengurangi pekerjaan olah tanah, memutus siklus perkembangan OPT padi, dan mengkondisikan sanitasi lingkungan pascapanen dengan baik,” pungkasnya. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here