Mataseger Konsisten Merevitalisasi dan Mengembangkan Budaya Gresik di Tengah Gempuran Arus Globalisasi

0
62
Kris Adji AW, Ketua Yayasan Mataseger, dan belasan buku yang diterbitkan. (Foto Made Wirya)

gemahripah.co – Mataseger (Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik) dibentuk pada 10 November 2010. Semula hanya sebuah komunitas yang peduli pada perlindungan dan pelestarian cagar budaya di Gresik. Kemudian berkembang menjadi gerakan pengumpulan data berkaitan dengan sejarah Gresik.

Karena sering bersentuhan dengan berbagai institusi, Kris Adji AW, yang menjadi motornya,  kemudian menggagas untuk menjadikan komunitas itu menjadi yayasan. Maka jadilah Yayasan Mataseger pada tahun 2014.

“Ketika Yayasan ini berkembang, kami menyadari ternyata sejarah dan budaya itu bukan kata benda, tapi lebih ke kata kerja. Sehingga akhirnya kami membentuk divisi Rumah Data pada tahun 2011. Kantornya di rumah saya. Dulu pernah sewa kantor, tapi hanya mampu bertahan 2 tahun karena biaya,” ujar Budayawan Gresik itu.

Kris menyampaikan, aktivitas Rumah Data adalah mengumpulkan data-data berkaitan dengan sejarah dan budaya lokal, baik dalam bentuk naskah kuno maupun literatur modern. Data-data tersebut nantinya dijadikan referensi untuk menyusun beberapa buku.

“Buku-buku yang kami buat mengenai  sejarah dan budaya Gresik. Seiring berjalannya waktu, ternyata buku-buku tersebut banyak dibutuhkan oleh instutusi dan masyarakat dari berbagai daerah, termasuk kalangan kampus,” jelasnya.

Kris mengungkapkan,kampus  yang pernah memanfaatkan data yang dikumpulkan oleh Mataseger tidak hanya yang ada di Gresik saja, tapi juga beberapa kampus di kabupaten, kota, dan provinsi lain. Yang paling jauh, katanya, ada sebuah yayasan serupa dari Provinsi Aceh.

“Akademisi di luar Gresik yang pernah berkunjung ke sini adalah dari UGM, Unair, ITS, Unesa, UIN Malang, UMM, dan UPI Bandung. Beberapa skripsi yang mereka buat ada yang dikirimkan dan menjadi koleksi perpustakaan Rumah Data,” paparnya.

Bahkan Akademisi dari UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), tambahnya, banyak mendapatkan data dari Rumah Data untuk merumuskan pendidikan karakter anak Indonesia.

Selain Rumah Data, Mataseger juga membentuk Rumah Literasi, sebagai upaya untuk mengembangkan dan memberdayakan perpustakaan, baik sekolah maupun desa. Yayasan tersebut memiliki sekitar 40 perpustakaan binaan di Kabupaten Gresik, yang selalu dikawal agar terus berkembang.

Bekerjasama dengan perusahaan pembangkit listrik di Gresik, Mataseger mendirikan Ekokraf, Ekonomi Kreatif.  Di Ekokraf, potensi budaya beberapa desa di Gresik digali sehingga menjadi inspirasi berbagai produk.

“Kami mengajak anak-anak muda untuk berpikir, bahwa modal berupa potensi desa itu penting untuk dijadikan landasan dalam menciptakan sebuah karya. Entah itu berupa obyek wisata, kerajinan, kuliner, dan sebagainya,” jelasnya.

Yayasan yang dikelola oleh 12 orang yang mayoritas berusia muda itu sudah menerbitkan belasan buku. Salah satu buku yang paling fenomenal adalah “Sang Gresik Bercerita”. Penerbitan buku tersebut didukung oleh perusahaan smelter tembaga di Gresik.

Buku yang dicetak seribu eksemplar itu dibagikan secara gratis ke berbagai lembaga dan instansi. Hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia mendapat kiriman buku tersebut.

“Buku ini menginspirasi beberapa komunitas lain yang ada di Gresik untuk membuat gerakan yang sama. Buku ini berisi tulisan karya 52 anak muda yang menggali potensi daerah asalnya masing-masing,” terangnya.

Menurut Kris, yang mengerti potensi desa dan kecataman di Kabupaten Gresik, adalah orang-orang yang lahir dan tumbuh di daerah tersebut. Mereka lebih tahu dan bisa merasakan denyut kehidupan desa mereka, dibandingkan dengan orang luar.

Kris mengaku dalam hal pendanaan  Mataseger tidak mendapatkan sentuhan dari pemerintah. Selain dari beberapa perusahaan yang memiliki mimpi yang sama dengan yayasan tersebut, pembiayaan dilakukan secara swadaya.  Keuntungan dari penerbitan buku diputar lagi, setelah terkumpul digunakan untuk membiayai yayasan.

“Meskipun tidak ada bantuan dana dari Pemkab Gresik, kami tetap membantu dalam mengembangkan budaya Gresik. Seperti misalnya penentuan bentuk naga di gerbang masuk Kota Gresik dari Lamongan. Bentuk naga itu hasil kajian dan penelitian Mataseger,” akunya.

Bentuk naga yang asli, ujar Kris, sudah rusak. Untuk merekonstruksi bentuk aslinya, Mataseger  melakukan kajian dan penelitian secara mendalam selama setahun. Yayasan itu juga bekerjasama dengan Balai Penelitian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, yang sepakat dan bahwa bentuk aslinya seperti yang terpasang di gerbang tersebut.

“Ini bisa dikatakan sebagai koreksi dari bentuk naga yang terdapat di gerbang masuk Kota Gresik dari arah Surabaya. Kemudian kami juga membuat  miniatur gerbang tersebut, yang digunakan oleh pemkab untuk souvenir,” jelasnya.

Kris berharap, pembangunan di Gresik tidak hanya fisik, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana agar  nilai-nilai kearifan lokal Gresik bisa tetap terjaga. Damar Kurung sebagai kearifan lokal Gresik, misalnya,  bisa tetap lestari.

“Lestari itu tidak hanya dijadikan ikon, kemudian digantung di tiang listrik. Itu ya bagus, tapi seharusnya bagaimana memberdayakan seni tradisi damar kurung sampai ke masyarakat kecil. Di SD seharusnya sudah ada ekstrakurikuler  Damar Kurung,” harapnya.

Kris juga berharap ke depannya akan tumbuh sentra-sentra Damar Kurung, yang tentu saja dieksplorasi sesuai perkembangan jaman. Misalnya damar kurung  gaya baru dengan dimensi yang lebih kecil.

“Damar kurung dengan ukuran besar, pembelinya akan kerepotan membawanya jika ingin membeli dalam jumlah yang banyak. Apalagi jika dibuat seperti aslinya, dari bambu, beli 4 saja sudah makan tempat di mobil. Persoalan-persolaan seperti itu yang kami dorong pada teman-teman,” tuturnya.

Meskipun arus globalisasi terus menggerus dengan ganas, Yayasan Mataseger tidak berhenti untuk terus berusaha merevitalisasi dan mengembangkan kebudayaan dan kearifan lokal Kota Santri itu. (Made Wirya)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here