Indonesia Ekspor 7 Ton Larva Kering BSF ke Inggris

0
11
(Foto: amazon.ca)

gemahripah.co – Indonesia berhasil mengekspor 7 ton larva kering jenis Black Soldier Flies (BSF) ke Inggris. Ekspor komoditas tersebut dilepas oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Bogor, Selasa (3/3/2020).

Menurut Syahrul dalam keterangan tertulisnya, kegiatan ini sebagai upaya Kementerian Pertanian untuk menggenjot PDB Indonesia dan kesejahteraan masyarakat, melalui peningkatan ekspor berbagai komoditas pertanian.

“Biasanya kita bisa tembus Inggris setelah melalui Italia, Jerman, atau Roma. Kalian sudah tembus langsung berarti itu pintu yang bagus untuk pintu pertanian Indonesia ke depan,” ujarnya.

Syahrul menyampaikan, Indonesia memerlukan pelaku usaha yang terus melakukan inovasi untuk menumbuhkan produk ekspor baru, seperti larva kering ini. Tidak hanya itu, negara tujuan baru pun perlu terus diperluas.

Koordinasi dan sinergi, lanjutnya,  memperkuat jejaring antara pemerintah pusat, daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong potensi ekspor pertanian dalam memasuki pasar global.

“Hari ini Bogor membuktikan ada komoditas yang bisa diekspor. Dan itu tidak ada di negara lain. Larva kering ini menjadi contoh bahwa sebenarnya kemampuan produk negeri ini menembus kebutuhan dunia sangat terbuka luas,” tegasnya.

Menurut Syahrul, ekspor larva ini menjadi bukti nyata untuk membangkitkan minat generasi muda terjun ke sektor pertanian. Ia menilai, ekspor ini mampu menghadirkan kemampuan-kemampuan anak bangsa guna mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki.

“Mengapa demikian? Karena ekspor larva kering ini adalah sesuatu yang tidak dimiliki negara lain. Oleh karena itu, pasti Bogor akan makin memiliki kemampuan untuk menghadirkan masyarakat yang makin baik,” jelasnya.

Selain itu, tambah Syahrul, produk pertanian memiliki potensi ekspor. Hal ini menjadi peluang bagi para pemuda kita. Pertanian  menjadikan sesuatu agar mereka bisa hidup lebih baik, bahkan pertanian adalah solusi dari lapangan kerja yang tersedia di setiap momentum.

Syahrul mencontohkan bungkil sawit dapat dijadikan pakan ternak, kemudian larvanya menjadi makanan yang nilainya sangat mahal di luar negeri. Di sisi lain komoditas larva sangat dibutuhkan oleh masyarakat di seluruh dunia.

“Kalau begitu tinggal anak-anak mau berada dalam posisi apa, mau dia menjadi off taker dari pembeli saja, atau mau dia menjadi pembudidaya. Kemudian bisa juga menjadi trading. Kalau begitu tinggal mereka memilih konsep-konsep yang sudah tersedia,” kata Syahrul.

Sebelumnya Indonesia juga pernah mengekspor larva ke Jepang dan Belanda  sejumlah  59,113 ton, dengan total nilai penjualan Rp 3,31 miliar pada periode 2018-2019. Pengiriman ekspor tersebut melalui pelabuhan Tanjung Priok, sedangkan penjaminan kesehatan dan keamanannya oleh Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok. (GR)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here