Dari Pelatihan Teknologi Nano di Petrokimia Gresik, Bisa Mengefisienkan Aplikasi Urea

0
25
(foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Teknologi nano (nanotechnology) adalah salah satu teknologi yang berbasis pada material yang berukuran nano. Di mana rekayasa barang-barang yang berukuran nano tersebut menjadi satu sistem yang bisa diaplikasikan untuk keperluan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Heru Setyawan, M.Eng, pakar serbuk dari Institut Teknologi Surabaya, ketika memberikan materi pelatihan teknologi nano pada industri pupuk di Petrokimia Gresik, Kamis (24/10).

Saat ini, ujarnya, sudah banyak bidang yang sudah mengaplikasikan teknologi nano, seperti misalnya teknik, sains, kesehatan dan pertanian.  Dalam kehidupan sehari-hari alat yang mengaplikasikan teknologi nano yang akrab dengan kehidupan kita adalah telepon seluler.

“Telepon seluler berisi teknologi dari hasil nanotechnology,  mulai dari chips-nya kemudian rangkaian-rangkaiannya, bahkan bahannya sehingga bisa ringan dan tipis karena adanya nanotechnology, yang disebut dengan conductive polymers (polimer yang bisa menghantarkan listrik),” jelas Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITS itu.

Dengan conductive polymers, terangnya, bobot telepon seluler menjadi ringan. Karena jika penghubung listriknya mengunakan tembaga seperti yang konvensional, akan menjadi berat.

Menurut Prof Heru, teknologi nano pada bidang pertanian, salah satunya bisa diaplikasikan pada pemberian pupuk lepas lambat (slow release).  Jika biasanya pupuk urea yang sifatnya lepas lambat, begitu ditebar  kemudian banyak terlarut dalam air.

“Hal tersebut menyebabkan banyak yang hilang dan jumlah yang tidak terserap oleh akar tanaman cukup banyak. Dan yang hilang ini bisa mencapai antara 50-60%. Dengan teknologi nano ini, pupuk urea bisa dikontrol sehingga larutnya pelan-pelan,” katanya.

Sedangkan aplikasi teknologi nano dalam rekayasa genetika,  jelas Prof Heru, bisa untuk mengontrol DNA. “Di Indonesia, yang Saya tahu,  yang mencoba untuk merekayasa genetika (dengan teknologi nano) adalah BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional), salah satunya dengan menggunakan radiasi,” terangnya.

Dengan teknologi nano, tegas Prof Heru, mampu mengubah genetik dari satu tanaman, sehingga hanya sifaf-sifat yang menguntungkan saja yang tertinggal.

“Dalam produk olahan pertanian di Indonesia, memang teknologi ini sebatas pada kemasan pada industri makanan, agar bisa menjadi lebih tahan lama dalam penyimpanannya. Misalnya dalam kemasannya bisa dibuat anti bakteri sehingga bisa menghambat pembusukan, dan tidak cepat basi,” ujarnya.

Partikel nano, lanjut Prof Heru, punya sifat yang bisa dikontrol, salah satunya adalah logam perak. Jika perak biasa tidak berfungsi sebagai anti bakteri, tapi ketika logam tersebut dalam bentuk nano, bisa berfungsi sebagai anti bakteri.

Saat ditanya tentang perkembangan teknologi nano di Indonesia, Prof Heru menyampaikan bahwa untuk micro electronics memang sudah ketinggalan dari negara-negara maju. “Yang masih memungkinkan salah satunya adalah untuk pertanian, jadi bukan yang sangat advance,” pungkasnya. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here