Budidaya Porang di Madiun Terkendala Terbatasnya Pupuk Bersubsidi

0
1075
Tanaman porang. (foto: Balitkabi)

gemahripah.co – Beberapa tahun terakhir ini porang, tanaman umbi-umbian yang juga dikenal dengan suweg atau iles-iles, menjadi komoditas primadona. Hal ini bermula dari keberhasilan petani porang dari Desa Kepel, Kecamatan Kare, Madiun, yang menjadi miliarder karena berbisnis ekspor komoditas tersebut.

Umbi porang banyak diekspor ke  Korea, Vietnam, China, dan Jepang, dengan jumlah ekspor yang meningkat setiap tahunnya. Peluang budidaya porang menarik perhatian pemerintah untuk mengembangkannya.

Seperti dilansir oleh laman Balitkabi, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo  menugaskan Kepala Puslitbang Tanaman Pangan Haris Syahbuddin dan Kepala Balitkabi Yuliantoro Baliadi untuk berkunjung ke sentra porang, di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Madiun.

Dari hasil pertemuan dengan para petani, perangkat desa dan penyuluh pertanian, Haris Syahbuddin menyampaikan bahwa kendala utamanya adalah terbatasnya ketersediaan pupuk bersubsidi dan penyediaan pupuk kandang. Pada kesempatan itu terungkap juga adanya kekhawatiran penjualan umbi porang di pasar internasional yang diiringi dengan penjualan bulbil (siungan).

Dengan adanya penjualan bulbil, lanjutnya, dimungkinkan hilangnya bulbil lokal Indonesia. Untuk itu diperlukan perlindungan dan pembatasan penjualan umbi bibit porang. Hal ini dimaksudkan agar komoditas ini tetap terjaga kelestarian plasma nutfahnya, dan dapat menyejahterakan masyarakat Indonesia.

“Pemerintah akan berusaha menyediakan alokasi khusus pupuk untuk komoditas porang. Pemerintah juga akan melakukan perlindungan terhadap keanekaragaman tanaman pangan Indonesia,” ujarnya pada Sabtu (16/11).

Lebih lanjut Haris menyampaikan, pihaknya akan segera menurunkan tim peneliti dari Balitkabi untuk melakukan pemutihan varietas lokal porang dari daerah Madiun dan sekitarnya. Di samping itu akan dilakukan koordinasi dengan Badan Karantina dalam pengawasan ekspor porang.

“Peningkatan nilai tambah umbi porang juga akan diupayakan dengan cara mengembangkan industri processing umbi porang.” tegasnya.

Di  Desa Klangon, umbi porang sudah dikonsumsi sejak masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1942-1945. Namun baru sekitar tahun 1970-an, umbi porang mulai dikomersialkan di Desa Klangon. Saat ini harga chips umbi porang mencapai Rp11.000,00 hingga Rp17.000,00 per kg, tergantung musim dan kualitas umbi. Hasil panen umbi porang per hektar bisa mencapai 11 ton. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here