Buah Merah, Komoditas Pertanian Papua yang Diminati Pasar Dunia

0
11
Buah merah siap panen. (Foto: stemKR)

gemahripah.co – Salah satu komoditas pertanian andalan Papua adalah buah merah (Pandanus Conoideus), yang banyak tumbuh di Jayawijaya, Jayapura, Timika, Sorong dan Manokwari. Masyarakat Wamena menyebutnya dengan “kuansu”.

Seperti dilansir laman Kementerian Pertanian, beberapa tahun terakhir ini permintaan buah merah untuk pasar domestik maupun luar negeri terus meningkat. Data dari Karantina Pertanian Sorong selama tahun 2019, tercatat sebanyak 14.899 liter buah merah dikirim ke Surabaya dan Jakarta dengan nilai Rp 7,4 miliar.

Menurut Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil, buah merah merupakan komoditas lokal unggulan  Papua Barat,  walaupun masih dalam skala kecil. Tapi buah ini sudah mampu menembus pasar dunia.

“Koordinasi dan kerja sama antar instansi dan dinas terkait diharapkan dapat membangun pertanian berbasis kawasan berorientasi ekspor,” kata Ali Jamil, saat mendampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, melepas  buah merah ke Chekoslovakia dan komoditas lainnya di Pelabuhan Laut Sorong, Kota Sorong, Rabu (26/2).

Pada kesempatan itu, Syahrul Yasin Limpo menyampaikan apresiasi kepada Kementan, Pemda, dan pelaku usaha atas kerja keras yang telah dilakukan.

“Masih banyak potensi Papua Barat yang bisa dioptimalkan. Oleh karena itu, peran teknologi modern dan investasi diharapkan bisa mengakselerasi peningkatan ekspor komoditas pertanian baik dari Manokwari atau Sorong,” ujarnya.

Dengan akselerasi peningkatan ekspor komoditas pertanian tersebut, lanjut Syahrul, pendapatan dan kesejahteraan petani bertambah. Hal ini bisa dipastikan berdampak pada perekonomian

“Buah merah sudah diterima di Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Cheko dan Slovakia,” paparnya.

Sementara itu, dari data Badan Pusat Statistik terungkap bahwa ekspor sektor pertanian di awal tahun 2020 mengalami peningkatan tertinggi year on year (YOY), dibanding sektor lainnya di tahun sebelumnya sebesar 4,54 persen.

“Yang perlu diingat, apa yang kita lakukan ini harus berkelanjutan. Penuhi semua persyaratan internasional, sanitari dan fitosanitari. Iklim dan ekosistem investasi akan terbangun manakala kita terus melakukan inovasi dan perbaikan tata kelola, layanan,” tegas Syahrul. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here